Alhamdulillah, Tetap Penuh Syukur
Ada momen-momen dalam hidup seorang anak yang tidak akan pernah bisa diukur hanya dengan warna medali. Hari itu, di ajang Padang Pencak Silat Open 2026, adalah salah satunya.
Uda Al Fatih DM baru saja menyelesaikan kejuaraan resmi keduanya dalam perjalanan silatnya. Hasilnya: Juara 2 (Medali Perak) untuk kategori perorangan, dan Juara 3 Umum bersama tim. Sebuah pencapaian yang sebenarnya jauh dari kata kecil, namun tetap saja, sebagai orang tua, ada ruang kecil di hati kami yang menyimpan rasa kecewa.
Sebab melihat langsung jalannya pertandingan, kami merasa uda Fatih sebenarnya layak pulang membawa emas. Ada rasa “hampir”, ada rasa “seharusnya”. Tapi dari situ pula kami belajar sesuatu yang berharga: bahwa perjalanan di dunia pencak silat bukan hanya soal sejauh mana seorang anak meningkatkan performanya, tapi juga soal seberapa dalam ia dan kami sebagai orang tua memahami aturan permainan itu sendiri. Ini menjadi catatan penting untuk perjalanan berikutnya.

Namun yang paling membekas justru bukan soal menang atau kalah, melainkan reaksi uda Fatih sendiri sesaat setelah hasil diumumkan. Wajahnya biasa saja. Tenang. Tidak ada drama, tidak ada air mata. Ia hanya berkata santai,
“Yey Fatih Juara 2, lebih baik dari kemarin yang juara 3.”
Sesederhana itu. Kami sebagai orang tua sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu apa yang bergejolak di hati seorang anak berusia belia. Tapi satu kalimat itu sudah cukup untuk kami mengerti: ia bangga dengan pencapaiannya sendiri, dengan caranya sendiri. Dan bagi kami, itulah yang paling penting, bukan standar kesempurnaan yang kami tetapkan, melainkan kebanggaan yang ia rasakan sendiri.
Perjalanan yang Tidak Instan
Apa yang terlihat di atas gelanggang pertandingan hanyalah puncak dari gunung es. Jauh sebelum hari-H, uda Fatih sudah mempersiapkan dirinya dengan cara yang terbaik.
Ia menambah porsi latihan di rumah, jauh hari sebelum jadwal pertandingan ditetapkan. Setiap malam selepas Isya, bersama Ayah, ia kembali mengulang teknik-teknik yang telah diajarkan pelatihnya di Perguruan Silat Tapak Suci Tanjung Saba, Kota Padang. Tidak ada libur karena cuaca, bahkan ketika langit masih menyisakan rintik hujan, uda Fatih tetap berlari bolak-balik menyusuri gang di depan rumah, membangun stamina dan ketahanan yang kelak akan diujikan di atas matras.
Salah satu fokus utamanya adalah tendangan kaki kiri, kaki yang selama ini masih terasa lemah dan belum terarah dengan baik. Ia berlatih tekun untuk memperbaikinya, sembari terus mengasah kekuatan tendangan kanan. Bahkan untuk tendangan tinggi, ia menggunakan kursi sebagai penanda batas ketinggian, agar setiap tendangan yang dilepaskan benar-benar menghasilkan poin di pertandingan nanti, bukan sekadar tendangan rendah yang justru berisiko dianggap pelanggaran.
Tidak berhenti di situ, ia juga berlatih teknik tendangan sambil mundur, sebuah keterampilan penting saat dikejar lawan di gelanggang pertandingan, serta bagaimana menghindar dan menangkis dari serangan pukulan maupun tendangan lawan dengan lebih baik.
Semua persiapan ini, jika ditotal, jauh melampaui apa yang pernah ia lakukan untuk kejuaraan sebelumnya. Uda Fatih benar-benar siap menghadapi siapa pun lawan yang akan berdiri di hadapannya.
Bukan Sekadar Mengejar Juara
Bagi kami sebagai orang tua, gelar juara sesungguhnya hanyalah bonus dari perjalanan panjang ini. Yang jauh lebih utama adalah bagaimana pencak silat membentuk uda Fatih menjadi pribadi yang lebih kuat secara mental, memiliki keterampilan bela diri yang mumpuni, tidak mudah menjadi korban bully, dan mampu bersosialisasi dengan baik bersama teman-teman seperjuangannya di dunia silat, dan tentunya di masayarakat umum.
Kami sudah berdoa untuk hasil yang terbaik. Dan mungkin, inilah jawaban terbaik yang Tuhan berikan untuk kami saat ini, bukan yang paling sempurna menurut standar kami, tapi yang paling tepat menurut rencana-Nya.
InshaAllah, perjalanan ini akan terus berlanjut. Kejuaraan-kejuaraan berikutnya sudah menanti, dan kami akan terus mendampingi uda Fatih untuk tetap berproses, sambil tetap membumi, mengingat bahwa setiap langkah kecil hari ini adalah pondasi untuk pencapaian yang lebih besar di masa depan.
TTD
Ayah dan Bunda
#kejuaraansilat #padangpencaksilatopen2026 #tapaksuci #udafatihdzm





Leave a Reply