Dari Kekaguman Menjadi Prestasi

Di balik sosok mungil dan senyum manisnya, tersimpan semangat besar dalam diri Aretha Adreena Nazafarin, atau yang akrab disapa Farin. Lahir pada 21 Maret 2019, Farin merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Kini, ia duduk di bangku kelas 2 SDN 23 Marapalam.
Perkenalannya dengan dunia pencak silat bermula dari sebuah hal sederhana, yaitu kekaguman seorang anak kepada kakak sepupunya.
Farin sering melihat kakak sepupunya, Aliya Naifa Noya, berlatih pencak silat. Dari kebiasaan melihat latihan tersebut, muncul rasa ingin tahu dan ketertarikan dalam diri Farin. Sosok Noya yang kini juga berlatih bersama Farin di Tapak Suci Tanjung Saba menjadi salah satu inspirasi awal yang membuat Farin tertarik mengenal dunia pencak silat.
Ketertarikan yang awalnya sederhana itu kemudian tumbuh menjadi semangat untuk ikut berlatih.
Bagi Farin, pencak silat bukan hanya tentang menguasai gerakan dan teknik bela diri. Lebih dari itu, latihan menjadi tempat baginya belajar disiplin, keberanian, ketekunan, tanggung jawab, sportivitas, serta menghargai orang lain.
Laga Pertama, Prestasi Pertama

Semangat dan keberanian Farin kemudian mendapatkan pengalaman berharga ketika ia mengikuti Padang Pencak Silat Open 2026. Kompetisi tersebut menjadi laga pertama Farin di dunia pertandingan pencak silat.
Bagi seorang anak yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar, turun ke arena pertandingan tentu bukan perkara mudah. Ada rasa gugup, ada tantangan, dan ada keberanian yang harus dikumpulkan untuk tampil di hadapan banyak orang.
Namun Farin berani mencoba.
Dengan bekal latihan dan semangat yang telah ia bangun, Farin akhirnya berhasil membawa pulang Juara 3 atau medali perunggu dalam laga perdananya tersebut.
Medali perunggu itu mungkin baru sebuah langkah kecil dalam perjalanan Farin. Namun bagi seorang anak yang baru pertama kali merasakan atmosfer pertandingan, pencapaian tersebut menjadi awal yang sangat berarti.
Bukan semata-mata tentang warna medali yang dibawa pulang, tetapi tentang keberanian Farin untuk memasuki arena, menghadapi lawan, menjalankan hasil latihan, dan memberikan kemampuan terbaiknya.
Laga pertama telah mengajarkan satu hal penting kepada Farin: keberanian untuk mencoba adalah bagian dari kemenangan.
Medali perunggu tersebut pun menjadi bukti bahwa proses latihan yang dilakukan dengan tekun dapat menghasilkan sesuatu yang membanggakan. Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi Farin untuk terus belajar, berlatih, dan berkembang tanpa melupakan semangat sportivitas.
Anak Pendiam dengan Semangat yang Terus Tumbuh
Di lingkungan sekolah, Farin termasuk anak yang cenderung introvert. Ia bukan tipe anak yang selalu berada di tengah keramaian atau banyak berbicara. Namun, sifat tenang tersebut bukan berarti membuat Farin sulit bergaul.
Justru, Farin dikenal mampu cepat beradaptasi dan bergaul dengan orang-orang di sekitarnya.
Pencak silat menjadi salah satu ruang yang membantu Farin membangun keberanian dan rasa percaya dirinya. Dari latihan hingga pertandingan, ia belajar untuk tampil di depan orang lain, mengikuti arahan pelatih, berinteraksi dengan teman-teman, serta menghadapi tantangan dengan kepala tegak.
Perlahan, setiap latihan bukan hanya membentuk gerakan tubuhnya, tetapi juga membentuk karakter dan mentalnya.
Bukan Hanya Silat
Di luar pencak silat, Farin juga memiliki sisi kreatif yang tidak kalah menarik. Ia sangat senang menggambar dan mewarnai. Dunia gambar dan warna menjadi ruang bagi Farin untuk menuangkan imajinasi dan kreativitasnya.
Selain itu, Farin juga mengikuti les Prisma sebagai bagian dari aktivitas belajarnya. Berbagai kegiatan tersebut membuat masa kecil Farin dipenuhi pengalaman yang beragam—mulai dari belajar, berkreasi, berlatih, hingga berkompetisi.
Semua proses tersebut menjadi bekal penting bagi tumbuh kembangnya.
Polwan dan Guru, Dua Mimpi dengan Satu Tujuan
Di balik kesibukannya sebagai seorang pelajar dan atlet pencak silat cilik, Farin telah memiliki cita-cita yang ingin diwujudkannya kelak. Ia ingin menjadi Polwan dan guru.
Dua profesi tersebut memang berbeda, tetapi keduanya memiliki satu persamaan yang indah: sama-sama mengabdi dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Farin ingin menjadi Polwan yang bukan hanya kuat dan disiplin, tetapi juga memiliki hati yang lembut dan kepedulian terhadap sesama. Ia ingin menjadi perempuan yang berani berdiri di depan ketika orang lain membutuhkan perlindungan, sekaligus mampu menjadi sosok yang memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Sementara menjadi guru merupakan cita-cita yang menggambarkan keinginannya untuk berbagi ilmu dan membimbing orang lain. Seorang guru tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, atau berbagai pengetahuan, tetapi juga ikut membentuk karakter dan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.
Jika suatu hari nanti Farin benar-benar mengenakan seragam Polwan, ia dapat membawa keberanian dan kedisiplinan yang telah dilatih sejak kecil melalui pencak silat.
Dan jika kelak ia berdiri di depan kelas sebagai seorang guru, ia dapat membawa pengalaman hidupnya untuk mengajarkan kepada anak-anak lain bahwa setiap mimpi membutuhkan keberanian, kerja keras, dan ketekunan.
Menjadi Polwan berarti melindungi. Menjadi guru berarti mencerdaskan. Keduanya adalah bentuk pengabdian.
Medali Pertama, Awal dari Perjalanan Panjang

Perjalanan Farin tentu masih sangat panjang. Medali perunggu dari laga pertamanya di Padang Pencak Silat Open 2026 bukanlah akhir, melainkan sebuah awal.
Akan ada lebih banyak latihan, lebih banyak tantangan, mungkin juga kemenangan dan kekalahan yang akan ia temui di masa depan. Namun, pengalaman pertamanya telah memberikan sebuah fondasi penting: keberanian untuk berdiri dan mencoba.
Dari seorang anak yang dahulu hanya melihat kakak sepupunya berlatih, kini Farin telah berani memasuki arena dan membawa pulang prestasi.
Langkahnya mungkin masih kecil. Usianya pun masih belia. Tetapi mimpi yang ia simpan sudah begitu besar.
Dengan dukungan keluarga, bimbingan para pelatih, semangat belajar, serta kecintaannya pada pencak silat, Farin diharapkan terus tumbuh menjadi anak yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat, rendah hati, dan peduli kepada sesama.
Sebab pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang seberapa banyak medali yang berhasil dikumpulkan, tetapi tentang bagaimana setiap proses membentuk seorang anak menjadi pribadi yang lebih berani, disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah.
Dan medali perunggu pada laga pertamanya telah menjadi satu halaman indah dalam perjalanan kecil Aretha Adreena Nazafarin.
Sebuah awal dari cerita panjang seorang pendekar cilik yang bermimpi suatu hari nanti dapat mengabdi sebagai Polwan, sekaligus menjadi guru yang mencerdaskan dan menginspirasi generasi penerus.
(Sumber: Orang Tua Aretha Adreena Nazafarin)






Leave a Reply