Dari 30 Menjadi 88: Rahasia di Balik Lonjakan Dramatis Keanggotaan Penerbit Sumatera Barat”

Dari 30 Menjadi 88: Rahasia di Balik Lonjakan Dramatis Keanggotaan Penerbit Sumatera Barat"

Padang — Di tengah hiruk-pikuk pemilihan ketua baru, ada satu angka yang diam-diam mencuri perhatian dalam Musda IKAPI Sumatera Barat 2026: pertumbuhan keanggotaan organisasi yang melesat tajam. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun, jumlah penerbit aktif yang tergabung dalam IKAPI Sumbar melonjak dari sekadar 30 penerbit pada pertengahan 2023 menjadi 88 penerbit aktif pada 2026, sebuah pertumbuhan hampir tiga kali lipat yang jarang terjadi di organisasi sejenis.

Geliat pertumbuhan ini juga tercermin nyata dari antusiasme peserta musda itu sendiri. Ketua panitia, Armaidi Tanjung, melaporkan bagaimana jumlah pendaftar yang awalnya hanya 30 orang pada hari Kamis, tiba-tiba melonjak menjadi 70 peserta begitu pagi hari pelaksanaan tiba. Lonjakan mendadak ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia perbukuan di Sumatera Barat, yang sebelumnya kerap dianggap lesu, kini mulai menggeliat kembali.

Namun pertumbuhan jumlah anggota ternyata belum sepenuhnya diiringi oleh kekuatan finansial organisasi. Dalam laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2021-2026, tercatat saldo akhir kas organisasi hanya berkisar Rp19,18 juta, yang sebagian besar bersumber dari iuran bulanan anggota sebesar Rp20.000 serta hasil bagi dari penyelenggaraan pameran buku.

Kondisi keuangan yang masih terbatas ini turut menjadi sorotan dalam sesi tanggapan peserta. Sejumlah anggota mengusulkan agar pengurus baru lebih kreatif mencari sumber pendapatan di luar iuran rutin, termasuk gagasan menghadirkan pameran buku berskala lebih besar di Sumatera Barat sebagai sumber dana alternatif sekaligus sarana promosi karya anggota secara lebih masif.

Sebagai bentuk kontribusi konkret di tengah segala keterbatasan, anggota IKAPI Sumbar tetap menunjukkan komitmennya pada literasi publik dengan menyumbangkan 57 judul buku dari lima penerbit kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Padang. Langkah simbolis ini menjadi penegasan bahwa pertumbuhan organisasi tak hanya soal angka anggota, tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat luas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *