“Jangan Seperti Hidup dari Uang Pajak Rakyat”: Anggota IKAPI Sumbar Desak Pengurus Baru Berhenti Bergantung pada Iuran

Formatur IKAPI Sumbar

Padang — Di tengah euforia terpilihnya Alizar Tanjung sebagai Ketua IKAPI Sumatera Barat periode 2026-2031, sebuah suara kritis namun konstruktif justru datang dari salah satu anggota yang turut menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) baru-baru ini. Romi Mesra, yang mewakili penerbit PT. Naluri Edukasi Press dengan Nomor Anggota IKAPI 080/SBA/2025, menyampaikan harapan besar agar kepengurusan baru tidak terlalu menggantungkan operasional organisasi pada iuran anggota.

Sorotan ini bukan tanpa alasan. Sebagaimana terungkap dalam laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2021-2026, saldo akhir kas organisasi hanya berkisar Rp19,18 juta, dengan sumber pemasukan utama berasal dari iuran bulanan anggota sebesar Rp20.000 per bulan. Bagi Romi, pola pendanaan seperti ini rentan dan tidak sehat secara jangka panjang jika tidak segera dicarikan solusi alternatif. “Jangan sampai pengurus baru malah berpikir untuk menaikkan iuran keanggotaan. Itu ibarat hidup dengan uang pajak rakyat — bukan solusi, tapi justru membebani anggota,” ujarnya tegas.

Romi menegaskan bahwa kreativitas pengurus dalam mencari sumber dana di luar iuran harus menjadi prioritas utama kepemimpinan baru. Menurutnya, organisasi sebesar IKAPI Sumbar, yang kini telah beranggotakan 88 penerbit aktif, semestinya mampu menggali potensi pendanaan yang lebih variatif dan berkelanjutan, bukan sekadar mengandalkan kontribusi rutin anggota yang nominalnya pun masih sangat terbatas. Hal ini juga secara langsung berdampak kepada keaktifan anggota yang rendah terlihat dari sedikatnya anggota yang datang setiap kali diadakan pertemuan berupa rapat, buka bersama, dan bentuk pertemuan lainnya. Pembahasan yang selalu berkutat pada iuran anggota tentu berbanding terbalik dengan harapan anggota yang ingin terbantu dalam berbagai hal setelah bergabung dengan IKAPI, terbantu dalam hal informasi misalnya, peningkatan keterampilan, pendampingan, dan lainnya sehingga anggota juga merasa IKAPI juga berkontribusi dalam perkembangan penerbit mereka, bukan malah disodorkan dengan informasi yang membuat penerbit menjadi bertambah pengeluarannya. “Jangan hanya fokus ke pameran buku, anggota juga butuh peningkatan kapasitas, bukan cuma ajang jualan,” tegasnya.

Sebagai gantinya, Romi mengusulkan agar pengurus baru lebih rutin menggelar seminar dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri penerbitan masa kini, mulai dari keterampilan teknis percetakan atau memilih percetakan terbaik, strategi pemasaran buku di era digital, hingga pelatihan-pelatihan lain yang dapat mendongkrak kualitas SDM anggota secara menyeluruh. Harapan ini sejalan dengan visi yang sempat disampaikan Ketua terpilih Alizar Tanjung mengenai pentingnya kolaborasi dengan ilustrator, desainer grafis, dan industri kreatif, namun Romi menekankan bahwa kolaborasi semacam itu harus diwujudkan dalam bentuk program pelatihan nyata, bukan sekadar wacana dalam visi-misi semata. Dengan kombinasi pendanaan yang lebih kreatif dan program peningkatan SDM yang lebih variatif, Romi optimistis IKAPI Sumatera Barat dapat tumbuh menjadi organisasi penerbit yang lebih mandiri, profesional, dan berdaya saing di tingkat nasional pada periode kepengurusan mendatang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *