“Penerbit Disebut Tulang Punggung Bangsa: Kadis Kearsipan Sumbar Ungkap Fakta Mengejutkan soal Minat Baca Daerah”

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd., M.Pd

Padang — Sebuah pengakuan penting datang dari Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya pada Musyawarah Daerah IKAPI Sumatera Barat. Ia menegaskan bahwa IKAPI memegang peran sebagai tulang punggung dalam upaya peningkatan literasi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sumatera Barat, sebuah pernyataan yang menempatkan dunia penerbitan jauh lebih strategis dari yang banyak dibayangkan orang.

Menurut Jumaidi, literasi tidak boleh dipahami secara sempit sebagai sekadar aktivitas berkunjung ke perpustakaan. Literasi, dalam pandangannya, adalah kebiasaan membaca yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, sehingga membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang luas, termasuk dengan organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemerintah daerah secara menyeluruh.

Salah satu fakta yang cukup mengejutkan diungkap Jumaidi dalam sambutannya: Sumatera Barat ternyata termasuk dalam 10 provinsi dengan tingkat kunjungan perpustakaan tertinggi di Indonesia. Capaian ini terbilang istimewa mengingat minat baca masyarakat Indonesia secara nasional masih tergolong rendah secara umum, menjadikan Sumbar sebagai salah satu pengecualian positif di tengah tren nasional yang kurang menggembirakan.

Di sisi lain, Jumaidi juga menyoroti tantangan nyata yang dihadapi perpustakaan daerah, yakni keterbatasan dana untuk pengadaan buku. Kondisi inilah yang menurutnya membuat keterlibatan penerbit dan toko buku menjadi semakin krusial, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2018 yang mewajibkan penerbit menyerahkan koleksi buku ke perpustakaan, didukung sistem pendataan digital melalui aplikasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

Sebagai langkah lanjutan, Jumaidi menyampaikan bahwa Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat sedang mendorong program akreditasi perpustakaan daerah serta rencana bantuan 1.000 buku bermutu untuk mendukung standar nasional perpustakaan. Tak berhenti di situ, ia juga mendorong perpustakaan di Sumbar untuk bertransformasi menuju model inklusi sosial, bukan lagi sekadar tempat membaca, melainkan ruang aktivitas kreatif seperti kelas bahasa hingga pelatihan public speaking bagi masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *